Orang-Orang di Balik Layar MTs N Wonosobo

6:34 PM
MTsNWonosobo - Ketika kita nonton sebuah film yang bagus, kita akan bertanya, siapa sutradaranya, siapa penulis skenarionya, siapa aktor utamanya. Padahal dalam produksi film ada banyak sekali orang yang semuanya memiliki peran sendiri-sendiri. Misalnya, kameraman, cliper, lighting, tukang editing, costum, make up, aktor figuran, sampai orang-orang yang mengurus konsumsi dan sebagainya. Mereka bahu membahu untuk menghasilkan sebuah film yang bagus. Jika, misalnya, tukang make up males-malesan, atau tidak ada, maka bisa berakibat fatal. Tampilan aktor bisa jadi tidak sesuai yang diharapkan sutradara. Begitu pula jika tukang kostum, editing, atau yang mengurus konsumsi tidak bekerja. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Intinya, dibalik sebuah kerja besar, dipastikan ada orang-orang di balik layar. Mereka bekerja dan turut menyumbangkan sesuatu demi kesuksesan yang diharapkan. Begitu pula di sebuah lembaga yang di sebut sebagai sekolah. Ada orang-orang di balik layar, yang jarang tampil di depan siswa. Mereka bekerja siang, bahkan sampai malam hari. Tetapi kadang-kadang, kiprah mereka kurang diperhatikan, jasa-jasa mereka sering terlupakan.

Orang-Orang di Balik Layar MTs N Wonosobo

Di lingkungan madrasah kita tercinta, kita mengenal Bapak Sahono dan Ahmad Supriadi (Mamat) selaku Satpam sekaligus penjaga malam. Ada juga bapak Miskiyo, Ngafip, dan Supriyanto yang tugasnya berjubel, dari mulai mengurusi bagian kebersihan, membuatkan minum, sampai urusan dapur. Kamu bisa bayangkan sekiranya mereka tidak ada. Atau sekiranya mereka tidak masuk sehari saja. Siapa yang akan membantumu menyeberang jalan? Halaman sekolahmu, wah, bisa jadi penuh dengan daun-daun dan sampah berserakan.

Maka dari itu, kita perlu lebih mengenal mereka dan mendengar suara dari mereka.
Sahono, satpam kita ini, lahir bulan Maret 1971. Sekarang tinggal di Dukuh Srandil, Desa Besani, Kecamatan Selomerto. Beliau telah bekerja sebagai satpam di MTs N Wonosobo selama kurang lebih 4 tahun. Ketika majalah Prestasi mewancarainya, Beliau mengaku sangat senang apabila anak-anak tidak ada yang datang terlambat ke sekolah dan selalu menaati peraturan sekolah. Ia mengaku sedih ketika melihat anak-anak terlambat atau keluar Madrasah tanpa izin.

 “Mbok anak-anak itu ingat orangtuanya. Kasihan mereka yang bekerja untuk membiayai sekolah,” katanya Bapak beranak dua ini. Senada dengan itu, Ahmad Supriadi atau yang akrab dipanggil Pak Mamat, juga mengaku sedih jika para siswa tidak menaati peraturan. “Sebaliknya, saya senang jika anak-anak tidak melawan bapak/ibu guru, mengikuti upacara, dan tidak terlambat,” ungkap lelaki lajang yang lahir 29 Mei 1987 dan tinggal di Desa Gunung Tawang, Kecamatan Selomerto ini.

Selain sebagai satpam, yang bertugas menjaga keamanan dan membantu menyeberangkan jalan raya tiap pagi dan siang hari, Mamat dan Sahono juga bertugas untuk berjaga malam. Jaga malam artinya bukan menjaga malam, tetapi menjaga keamanan madrasah pada malam hari. Ketika kita tidur, mereka berdua terjaga dan mengontrol sudut-sudut di lingkungan madrasah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tugas jaga malam itu juga dibantu oleh Ngafip dan Miskiyo. Ngafip yang tinggal di kampung Jaraksari Wonosobo ini, mengaku sering tidak tidur selamalan. Demi apa? “Tentu saja agar madrasah ini aman,” jawab Ngafip sementara Miskiyo juga mengakui hal yang sama. Dirinya bahkan sering tidur di kursi tanpa selimut dan bantal. Sungguh perjuangan yang patut kita beri penghargaan. Meski rumahnya Kalierang, dekat madrasah, tetapi Miskiyo mengaku jarang tidur di rumah.“Ya, gimana lagi. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya. Harus dijalankan!” katanya penuh semangat.
Padahal paginya ngafip harus siap untuk memasak air dan membuatkan minum buat guru dan karyawan. Dilanjutkan membersihkan halaman dan mengurus kebun madrasah dibantu Bapak Miskiyo dan Bapak Supriyanto. (dian/dewi/yusuf)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »