Shalat Gerhana Tuntunan Syari’at Islam

6:42 PM
MTs N Wonosobo - Dalam kajian ini kami berharap Siswa MTs dapat memahami apa pengertian dan pelaksanaan, dasar dalam melakukan Shalat Gerhana. Kejadian gerhana, baik bulan maupun matahari, memang merupakan kejadian yang langka. Bisa jadi dalam rentang waktu bertahun-tahun, tapi mungkin juga dalam satu tahun yang sama. Karena kejadian yang langka ini, maka sebagiaan besar orang ingin menyaksikan fenomena itu dengan berbagai cara. Ada yang mengamati dengan menggunakan camera foto tertentu, kertas/plastik film atau ada juga yang menggunakan air sebagai cerminnya.

Bagi para ahli astronomi, pengamatan terjadinya gerhana biasanya menggunakan teropong dan dilakukan di pusat astronomi, seperti di Boscha Lembang. Mereka juga dapat menyiarkan langsung melalui media televisi kejadian tersebut ke seluruh tempat di dunia. Jadi, kita tidak perlu repot-repot untuk menyaksikan langsung. Melalui berita-berita pada sore atau malam hari, tayangan itu akan kita dapatkan kembali.

Shalat Gerhana Tuntunan Syari’at Islam

Islam sebagai ajaran yang lengkap tak luput juga menuntun kita untuk menyikapi kejadian itu dengan tuntuan syariat yang akan lebih meningkatkan ketauhidan dan aqidah islamiyah.
Pakar bahasa Arab, memberi istilah berbeda pada gerhana matahari dan bulan. Gerhana matahari mereka namakan dengan kusuf adalah artinya terhalangnya cahaya matahari atau berkurangnya cahaya matahari disebabkan bulan yang terletak di antara matahari dan bumi. Sedangkan khusuf sebutan untuk gerhana bulan.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa jika kusuf dan khusuf tidak disebut berbarengan, maka itu bermakna satu yaitu gerhana matahari atau gerhana bulan. Namun kalau kusuf dan khusuf disebut berbarengan, maka kusuf bermakna gerhana matahari, sedangkan khusuf bermakna gerhana bulan.
Dalam beberapa hadits, kadang menggunakan kata khusuf, namun yang dimaksudkan adalah gerhana matahari atau gerhana bulan karena khusuf pada saat itu disebutkan tidak berbarengan dengan kusuf.
Islam mengajarkan kepada umatnya kalau terjadi gerhana harus melakukan shalat gerhana,sebagaimana Sabda Rasulullas SAW:

..…فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

 “Apabila kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bershodaqohlah”. ( HR.Bukhari )

Shalat Gerhana
Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan shalat apabila mereka menyaksikan peristiwa gerhana,baik gerhana matahari maupun gerhana bulan sebagaimana yang disyari’atkan oleh Nabi Muhammad SAW. Para Ulama menyimpulkan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunah.Imam Nawawi dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sunahnya shalat gerhana merupakan ijma Ulama.
Di sisi lain,karena kaum muslimin jarang yang mengenal dan melaksanakan shalat gerhana,maka dengan melakukanya maka dia akan mendaapatkan keutamaan orang yang menghidupkan sunah.

Hukum Shalat Gerhana
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum shalat gerhana matahari adalah sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan). Namun, menurut Imam Abu Hanifah, shalat gerhana dihukumi wajib. Imam Malik sendiri menyamakan shalat gerhana dengan shalat Jum’at. Kalau kita timbang-timbang, ternyata para ulama yang menilai wajib memiliki dalil yang kuat. Karena dari hadits-hadits yang menceritakan mengenai shalat gerhana mengandung kata perintah (jika kalian melihat gerhana tersebut, shalatlah: kalimat ini mengandung perintah). Mereka berpendapat bahwa menurut kaedah ushul fiqih, hukum asal perintah adalah wajib. Pendapat yang menyatakan wajib inilah yang dipilih oleh Asy Syaukani, Shodiq Khoon, dan Syaikh Al Albani rahimahumullah. Dalilnya adalah:

.........فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)
Adab-adab Shalat Gerhana

Adapun adab-adab Shalat gerhana adalah sebagai berikut:

1.    Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana bulan dan matahari
2.    Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi Muhammad dalam Shalat Kusuf
3.    Menyeru dengan panggilan “ Asshalatu Jami’an “
4.    Disunahkan mengeraskan bacaan surat
5.    Shalat gerhana dilakukan di Mesjid secara berjamaah
6.    Wanita boleh ikut shalat berjamaah dibelakang barisan laki-laki
7.    Disunahkan memanjangkan bacaan surat
8.    Disunahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat.

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana
Waktu pelaksanaan shalat gerhana berlaku ketika proses gerhana mulai terjadi hingga gerhana selesai.Jika ketika shalat gerhananya selesai,maka lanjutkan halat dengan mempercepat shalatnya.Jika selesai shalat gerhana,dan proses gerhana masih berlangsung,tidak perlu melanjutkan shalat lagi,cukup membaca do’a dan istigfar yang banyak.Jika tidak sempat shalat saat terjadi gerhana maka tidak disunahkan melakukan qada atasnya.

Hal-hal yang dianjurkan ketika terjadi Gerhana

  1. Perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnyaDari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)
  2. Keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjidSalah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ‘Aisyah : bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat. (HR. Bukhari). 
  3. Wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum priaDari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata: “Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari)
  4. Menyeru jama’ah dengan panggilan “ash sholatu jaami’ah” dan tidak ada adzan maupun iqomah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim).
  5. Berkhutbah setelah shalat gerhana. Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah.Khutbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana shalat ‘ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i.

Hikmah dibalik peristiwa Gerhana
Banyak cerita khurafat dan tahyul beredar di masyarakat seputar terjadinya gerhana.Namun syari’at Islam telah mnyatakan dengan tegas nilai-nilai yang terkandung dibalik terjadinya peristiwa tersebut.Diantaranya adalah sebagai berikut:

a.  Munculnya Syari’at baru yaitu Shalat Gerhana
Rosulullah SAW Bersabda:

.......فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا 

“Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)
b.  Menunjukan salah satu keagungan dan kekuasaan Allah SWT yang maha mengatur alam ini
c.  Untuk menimbulkan rasa gentar di hati setiap hamba atas kebesaran Allah SWT dan adzabnya bagi siapa yang tidak taat kepadanya
Rosulullah SAW Bersabda:

.....إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ وَتَصَدَّقُو

 “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.

Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”. (HR. Bukhari)

Source Image: https://rumaysho.com/13145-shalat-gerhana-bulan-penumbra-adakah.html

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »