Cerpen karya Siswa (KENANGAN UNTUK SAHABAT)

5:29 PM
NAMA LENGKAP : GALIH DWI PANJALU
NAMA PANGGILAN : HONZEL
TEMPAT, TANGGAL LAHIR : Wonosobo, 16 Juli 2001
HOBI : Sepak Bola
NAMA ORANGTUA
1. AYAH : RAGIL SUJONO
2. IBU : Sinas
ALAMAT : Kedawung RT 004 RW 002 Wonolelo, Wonosobo
MOTTO : Ingin membuat semua orang senang dan ingin dapat menggapai cita-cita
KESAN : Pelajaran Bahasa Indonesia bagus membuat saya tahu dan mengenal wawasan yang lebih luas
PESAN : Perhatikanlah guru yang sedang menerangkan agar kita semua bisa membalas jasa mereka


(KENANGAN UNTUK SAHABAT)
Cerpen Galih Dwi Panjalu


Malam ini terasa hening dan terdengar suara-suara malam yang lebih nyaring. Suara itu menambah runcingnya kesendirian yang menggangu pikiranku. Akupun mencoba membaringkan tubuh ini ketempat tidur, setelah lama aku mencoba untuk mulai mememarkan mataku untuk tidur, tapi aku nggak bisa. Aku kembali duduk sendirian dengan suara-suara malam. Tiba-tiba saja arah pandanganku melihat buku diaryku, buku dimana semua peristiwa aku tuliskan pada buku itu. Tiba-tiba saja buku itu terbuka tertiup oleh angin, tak lama akupun langsung membacanya. Dan isi dari catatan kecil itu mengatakan semua peristiwaku kepada sahabat-sahabatku. Sahabat yang selalu bersama bercanda tawa bersama bakan disaat suka maupun duka selalu bersama. Aku dan sahabatku selalu mengisi hari-hari bersama, seakan tidak akan terpisahkan oleh apapun. Pada kalimat terakhir didiaryku terdapat “Kata” kita kan selalu bersama dan tidak dapat dipisahkan oleh apapun.

Aku sangat ingat kata-kata itu, aku terdiam sebentar, dan dalam benakku membayangkan kata-kata itu sembari duduk di tempat tidur
“Wah indahnya kalau banyak sahabat” tanyaku
“Iya indah sekali” jawab Agus
“Aku senang sekali punya sahabat seperti kalian” ucapku
“Kita juga” jawab serentak sahabatku
“Apakah kita akan selalu bersama” Tanya Nanda
“Iya pasti kit akan bersama-sama terus” jawabku
“Sipp,,,kebersamaan ini harus kita jaga” kata Agus
“Aku akan selalu membutuhkan kalian di dalam suka maupun duka” ucapku
“Iya kitapun begitu” jawab semua temanku
Kebersamaan dengan sahabat tidak akan bisa tergantikan dengan halangan apapun. Walaupun ombak yang besar dan badai yang besar sekalipun. Tapi sekuat apapun, aku tidak akan bisa hidup sendiri, karena itu aku sangat membutuhkan sekali seorang sahabt seperti kalian semua. Aku angsung bergegas mengambil bolpoin yang ada di meja dekat buku diary itu. Aku menuliskan kejadian hari ini pada buku diaryku. Aku menulis sebuah puisi sederhana untuk sahabatku
SAHABAT
Kau selalu mendengar bisikan bibirku
Disaat bibir ini mengatakan kebahagiaan ataupun kesedihan
Dengan setia kau berikan sebagian sayangmu
Hanya untuk seseorang sepertiku.

Tiba-tiba aku menghentikan tanganku yang sedang menulis puisi, kini kebersamaan yang begitu hangat lama kelamaan berubah begitu saja. Aku sudah begitu yakin kita akan selalu bersama, tapi mengapa sekarang malah berubah entah apa sebabnya. Aku tidak habis pikir kebersamaan yang selalu dinantikan yang dipastikan tidak akan dapat dimusnahkan sekarang hancur satu persatu. Kita saling musuhan satu sama lain. Aku sangat sedih dengan keadaan yang seperti itu.

Sahabat yang dulunya banyak satu persatu akhirnya pergi. Sekarang hanya sisa sahabatku yaitu sahabat sejati hanya ada Agus, Nanda, dan Angga. Musuhan yang terjadi mungkin tidak berlalu cepat mungkin sampai saat ini masih punya rasa dendam di hati mereka. Aku harus terus bertanya-tanya apakah kita dapat bersama lagi. Aku sangat merindukan hal itu. Andai saja ada pilihan aku ingin bersama , tidak mau terpisahkan seperti impianku yang dulu. Mungkin inilah yang terbaiak untuk aku jalani hari-hari selanjutnya aku terus berusaha agar persahabatan ku dengan dia bisa seperti dulu lagi, senang susah selalu bersama tapi apa daya usahaku selama ni hanya sia-sia
Aku masih saja mencoba memejamkan mataku yang sudah sangat mengantuk karena sudah larut malam. Namun tetap saja tidak bisa. Yang terpikir olehku sekarang hanyalah sehabat, sahabat dan sahabat. Yang selalu menemaniku dalam keadaan suka maupun duka mereka selalu ada untukku. Berbaring sambil melamun. Tiba-tiba saja dibenakku teringat kebersamaan dengan sahabatku.

“kita telah membunuh harapanku” kataku
“Harapan apa”Tanya Agus
“Harapan untuk kebersamaan kita” jawabku
“Oh yang dulu”
“Iya”
“Ya udahlah mungkin itu yang terbaik”
“Tapia pa yang harus ita lakukan, semua usaha telah kucoba”
“Apakah amu mau menyerah”
“Bukan begitu, kita jalani dulu aja apa yang telah terjadi. Walaupun hanya ada 3 orang sahabat”
“Baiklah kita akan selalu bersama”
“Iya karena kita adalah sahabat sejati”
Kangen itu adalah rasa sakit yang ku rasakan saat ini. Saat-saat seperti dulu lagi, saat kita canda tawa, suka maupun duka kita selalu bersama. Itu yang saat-saat sekarang aku inginkan dan aku sangat kangen dengan keadaan yang seperti itu. Serasa ingin kembali menjadi anak kecil dan polos seperti dulu lagi. Tapi yang saya sayangkan hanya satu yang saya sesalkan sahabat yang sedari kecil selalu bersama sekarang bahkan seperti kakak adik. Tapi mengapa sekarang, seolah tidak pernah mengenal aku. Aku terus saja berusaha mencapai keinginanku yaitu mengembalikan kebersamaan yang dulu pernah pudar. Tapi terus saja tidak bisa dan tidak ada hasilnya. Dia mungkin sudah lupa siapa aku sebenarnya. Mungkin dia sudah mendapat sahabat yang baru, sahabat yang lebih baik daripada aku.

Tak sadar mataku menitihkan air mata hanya membayangkan ketika kita selalu bersama tiba-tiba sekarang hancur lebur. Aku sangat kcewa tidak bisa mempertahankan kebersamaan kita yang dulu. Sekarang sahabat yang tersisa tiga kini malah bermusuhan entah apa penyebabnya. Tapi kenapa satu persatu persahabatanku kini runyam dan semu selalu musuhan. Dan air mataku selalu mengalir dipipiku saat aku mengingat kebersamaan yang dulu hangat sekarang hancur, musuhan. Itu yang selalu saja terjadi. Dan dalam musuhan ini mungkin saja aku penyebab masalahnya. Aku kini bermusuhan dengan sahabatku yang paling gendut yaitu angga teman yang paling pengertian, saat aku sedih dia yang selalu membuatku untuk selalu tersenyum. Tapi mengapa malah dia meninggalkanku dan memusuhiku. Hanya masih dua sahabat yang bersamaku yaitu agus dan nanda. Jadi dia adalah sahabatku yang paling konyol. Kita saling musuhan saat masih SD. Tapi musuhan dengan angga tidak begitu lama. Memang sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Saat musuhan aku menyayangkan hal itu. Seharusnya bisa bermain dan bersenang-senang di sekolah bersama. Akibat aku bermusuhan dengan angga, dia yang dulu paling pengertian sekarang tidak begitu pengertian kepadaku. Aku masih mengingat jelas kejadian itu dulu. Ada percakapan aku dengan kedua teman sejatiku.
“Apakah kalian juga akan meninggalkanku” tanya aku
“Tidaklah” jawab agus
“Apa buktinya, aku kini musuhan dengan angga” kata aku
“Biarkan dulu saja” kata nanda
“Tapi aku nggak bisa seperti ini terus” sahut aku
“Apa kamu mau menyerah dengan dia” tanya nanda
“Kita seharusnya mempertahankan, bukan kaya gini caranya” jawab aku
“Kita sudah terlanjur musuhan kalau tidak ada yang mau mengalah, akan terus musuhan untuk selamanya” ucap nanda
“Itu yang aku takutkan” sahut aku
“Ya udahlah kita mengalah saja” ucap agus.

Agus dan nanda yang tadinya tidak musuhan saja lama-lama dimusuhi juga oleh dia. Sebenarnya siapa ya yang salah sehingga ada musuhan. Aku bingung tidak mengerti apa masalahnya sehingga aku bisa musuhan dan teman-temanku juga ikut dimusuhi. Ataukah dia sudah bosan bersahabat denganku. Dalam bersahabat seharusnya tidak mementingkan keegoisan diri sendiri, hanya sahabat yang egois yang dapat memusuhi temannya sendiri. Dalam bersahabat juga seharusnya kita dapat saling menerima dan saling membantu satu sama lain. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Sahabat yang dulunya manis sekarang berubah menjadi pahit. Di dalam posisi ini saya selalu aja mengalah. Aku selalu saja di pojokkan, di salahkan dan apapun itu. Tapi sahabatku kini telah menjadi empat kembali. Persahabatan ini sudah menjadi keluarga kecil dalam hidupku. Akhirnya kita bersama kembali. Kali ini aku harus mengambil pelajaran dari bersahabat yang dulunya pahit sekarang menjadi manis kembali. Sekarang tidak akan ada kata bermusuhan dalam persahabatan yang hangat ini. Harapanku sekarang adalah tidak bermusuhan dengan sahabat-sahabat sejatiku. Sahabat yang selalu penegrtian kepadaku dan selalu ada di dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka. Aku tahu aku hanyalah makhluk lemah. Aku tidak akan berarti apa-apa bagai orang lain bila tidak ada yang menemaniku disampingku yaitu seorang sahabat. Jika tidak ada seorang sahabat disampingku aku tidak akan berdaya dan berguna apa-apa bagi orang lain.

Sahabat yang slalu setia menerima aku apa adanya dan ala kadarnya tidak membandingkan dengan sahabat-sahabat lain yang bersamanya. Sahabat setia juga akan selalu mendengarkan curahan hatiku ketika aku sedang sedih atau apapun. Sahabat setia yang aku sayangi sekarang akan menjadi keluarga kecilku. Sahabat yang sekarang akan menjadi keluarga kecilku akan selalu menemaniku dikala suka maupun dikala duka. Mereka akan memberikan motifasi kepada saya agar saya selalu berbuat positif dan tidak berbuat negative. Aku akan sangat-sangat membutuhkan sekali seorang sahabat seperti kalian. Karena kalianlah sahabat yang takkan pernah tergantikan oleh apapun dan oleh siapa pun. Kadangkala aku dan sahabatku selalu membantu ataupun merepotkan semua orang saya terutama tapi beruntung saya punya seorang sahabat sejati aku. Karena dia yang selalu membantuku di keadaan apaun, susah, senang, sedih dan apapun itu dia selalu ada untuk membantuku dan menemaniku di saat-saat aku sangat membutuhkan mereka yaitu seorang sahabat –sahabat yang tidak pernah tergantikan oleh apapun. Aku pasti akan merindukan kehangatan saat-saat diriku sedang bersama sahabat-sahabat sejatiku. Sahabatku “I Love You” kata-kata ini akan selalu kuingat, didalam diaryku terdapat tulisan aku sangat merindukanmu sahabatku “I Love You” inilah kata-kata yang membuatku selalu teringat kepada sahabat-sahabat sejatiku. Aku tidak bisa senang bila tidak ada seorang sahabat seperti kalian semua. Bahkan mengalami kesulitan pun selalu saja dengan sahabat. Sahabat sejatiku sahabat sehidup sematiku. Kata-kata manis itu telah ku tuliskan pada buku diary dan telah ku ucap sendiri dalam bibirku ini bibir-bibir sahabat-sahabat sejatiku  dan bibirku dan sekarang aku dan sahabatku mengulang kata-kata manis yang dulu pernah dikotakan bersama dan yang sudah ku tuliskan dulu pada buku diary yang sedang kubaca.

“Senang sekali ya…? Kita dapat berkumpul bersama lagi seperti dulu” kata angga
“Iya memang kebersamaan ini, yang selalu kita inginkan” jawab nanda
“Ya betul kata nanda dulu si galih ingin sekali kebersamaan kita ini hangat, nah sekarang sudah terwujudkan lih” sahut agus
“Pasti, aku sangat berterima kasih sekali kepada kalian semua telah menjadi sahabat-sahabat sejati pada (dalam) hidupku” jawab aku
“Hahahaaaa” kita semua tertawa terbahak-bahak
“Kita semua harus bisa mempertahankan kebersamaan ini sampai dewasa bahkan kalau kita sampai mati pun akan tetap menajdi sahabat sejatiku” kata aku
“Kita semua harus berjanji pada diri kita sendiri dan kawan-kawan kita agar tidak musuhan lagi oke” kata angga
“Senang ya punya sahabat setia seperti kalian semua” kata aku
“Ya tentu karena sahabat sejati itu tidak akan pernah tergantikan oleh apapun walaupun musuhan pasti kita akan bersama lagi” sahut agus
“Ya pastilah” jawab nanda
“Yang penting semuanya senang” kata agus
“Senanglah bisa bersatu kembali” sahut aku
“Yang penting gak ada keegoisan” jawab angga
“Ya, yang biasa egois , hati-hati lho” sindir si agus
“Yang nyindir ya ada” jawab nanda
“Ada yang ngerasa nih yeee” sahut aku
“Intropeksi diri aja” kata angga
“Dengar tuh” sahut bela dengan keras.

Sekarang tugas kita adalah gimana agar persahabatan kita selalu hangat dan tahan sampai kapanpun. Semoga saja tidak terjadi musuhan. Itu hal terburuk yang terjadi dalam persahabatan. Ini menjadi pelajaran. Aku bisa menilai diriku sendiri berapa besar manfaatku. Aku berharap agar ke depannya selalu kaya gini. Jadikan persahabatan ini menjadi hangat terus. Dan harus percaya semua orang pasti membutuhkan sahabat. Tanpa sahabat mungkin tidak bisa menjalani hidup sebahagia ini. Terima kasih untuk kenangan dan kebersamaan ini. Terima kasih juga untuk waktu yang selalu menemaniku. Aku tidak ingin persahabatan kita kali ini hancur lagi. Karena sahabat akan selalu melekat hingga akhir hayat. Semua peristiwa yang pernah aku alami dengan sahabat akan menjadi kenangan yang indah. Kenangan yang akan mengingatkan aku dikala aku mendapat teman baru. Aku akan menjadikan persahabatan ini persahabatan paling indah. Karena sahabat-sahabat sejatiku sekarang telah menjadi keluarga kecil bagi diriku dan akan selalu merekat kenangan-kenangan dulu waktu kita bersama. Aku menyadari aku bukanlah makhluk yang sempurna. Tapi aku pasti memiliki kekurangan dan kekurangan itu aku miliki pada kesempurnaan sahabat-sahabat sejatiku. Jadikan persahabatan ini menjadi hangat terus. Aku tidak akan melupakanmu. Kenangan yang akan mengisi hari-hari kosongku. Kenangan seburuk apapun yang telah terjadi bersama. Aku akan senang sekali, seburuk apapun asal kita bersama akan menjadi indah pada waktunya…
“Ingat sahabat melekat hingga akhir hayat”
I LOVE YOU
MY FRIENDS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »