MENCARI CITA-CITA

6:31 AM
Karya Siswa - Ketika ibu guru sedang menjelaskan pelajaran Bahasa Indonesia, aku memikirkan adikku yang sedang sakit sendirian dirumah. Tiba-tiba teman sebangkuku Wahyu mengagetkanku dan berkata “Anto kenapa kamu melamun, gak biasanya kamu seperti ini, walau kamu gak suka pelajaran Bahasa”. Aku hanya menghela nafas, rasanya aku ingin bercerita pada Wahyu, tapi sepertinya ini bukanlah masalah yang harus diceritakan.

MENCARI CITA-CITA

“Anto apa cita-citamu” Bu widya yang melontarkan pertanyaan dengan suara yang halus, mengingatkan aku pada ibuku. Aku terdiam, suara Bu Widya langsung terngiang-ngiang di otakku, suaranya mirip dengan suara almarhumah ibuku. “Anto,,,kenapa kamu diam saja, ibu kan bertanya apa cita-citamu”.Bu widya menyentakku. Spontan aku kaget, salah tingkah di hadapan Bu Widya, aku baru saja sadar dari lamunanku, aku tak tau harus menjawab apa.

“Aduhh anto kamu ini gimana, malah diam aja, lagi sakit gigi pa”

“Emhhhh,,,,gak kok bu saya lagi gak sakit gigi”

“Lha terus kenapa nggak jawab pertanyaan ibu”

“Lha sekarang saya Tanya sama ibu”

“Iya boleh, mau Tanya apa”

“Tadi bu widya Tanya apa sih sama saya”

“Aduhhhh, Anto Anto, telingamu lagi konslet atau bagaimana si.tadi ibu Tanya apa cita-citamu”

“Telinga saya juga lagi gak konslet bu, Sekarang saya mau Tanya lagi sama ibu”

“Ya boleh, mau Tanya apa lagi To”

“Cita-cita itu apa bu”

Dikelas aku memang tak pandai pelajaran bahasa,nilaiku selalu pas-pasan, namun nilai yang lain rata-rata 9.

“Ooooooo, jadi dari tadi kamu tidak mendengarkan apa yang ibu jelaskan,it’s ok wae To, ibu jelasin lagi pada intinya saja”

Bu Widya bercerita sepanjang jalan kenangaan, kepalaku hampir tergletak di atas meja, aku melihat jarum panjang jam dari angka 1 sekarang sudah sampai angka 1 lagi. Dan…..

“Bagaimana Anto kamu mengerti apa itu cita-cita”

Aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, hati kecilku berkata, aku gak suka diceritain sama bu Widya, itu malah membuatku bingung dengan penuh pertanyaan, yang tak cukup ku ucapkan dalam 1 hari.

Teng teng teng tengggg tenggg,

“oh ya sekarang sudah waktunya pulang, ayo Wahyu pimpin untuk berdo’a”

Bu widya no coment atas sikapku tadi. Namun ketika aku berdo’a Bu Widya menatapku, entah apa yang sedang dipikirkan Bu Widya tengtangku.

Aku dan Wahyu pulang bersama, ketika sampai di gerbang sekolah, aku menghentikan langkah ku,Wahyu juga menghentikan langkahnya.

“Hey Anto kenapa kamu berhenti”

“Wahyu…emhhh aku belum paham betul apa itu cita-cita”

“Gini cita-cita itu kaya sebuah rencana dari kamu kecil, ketika udah dewasa kamu mau jadi apa atau mau melaukan apa” Aku berfikir sejenak

“Tapi itu kan namanya profesi, seperti ibu Widya, dia sudah dewasa dan sudah menjadi guru, seperti yang diinginkan Ibu Widya waktu dulu kecil yu”

Wahyu hanya mengerutkan kepalanya,seolah-olah ingin menjelaskannya lagi dengan kosa kata yang aku fahami.Tapi….

“Anto, aku pulang dulu ya, hari ini cuaca tidak mendukung”

Aku baru sadar, adikku menunggu dirumah.Aku berlari menuju warung,membelikan sebungkus nasi,ini adalah uang terakhir minggu ini, aku harus bekerja lagi, jika aku ingin sekolah dan mencari tau apa itu cita-cita.

Nafasku sesak karna berlari terlalu kencang, ku pelankan lariku,masih kupercepat langkahku, beberapa menit kemudian,aku sampai di rumah peninggalan ibu, yang sekarang hanya kutinggali bersama adikku.

Rumah ini seperti istana, setiap masuk lelahku hilang begitu saja,karena ada hiasan barang bekas yang menempeli dinding kayu rumah, seperti lentera dimalam hari, dan adikku yang selalu menunngguku pulang,dengan senyumannya yang manis.

“Kak aku lapar, dan aku batuk-batuk kak”

“ia Antin kakak sudah membelikanmu sebungkus nasi, makanlah”

Entah kenapa aku melihat adikku yang sedang sakit.ingin rasanya teriak sekeras kerasnya, hati kecilku berbicara dengan lirih, seharusnya ada ibu yang bisa menemani antin,kebutuhan makan sehari-hari bisa ringan. Astagfirullahhal’adzim, aku tidak boleh sperti ini, aku harus berusaha dan bekerja keras, maju mencari cita-cita. Sekarang harus sholat dulu, dan berdo’a kepada Allah supaya Ibu tenang bersama Allah,dan memohon supaya mempermudah urusanku.

Setelah aku mensucikan diri, ada pak ustadz yang menemuiku,

“Assalamu’aliakum Anto, wahh sepertinya kamu tak pernah absent dari masjid ini”

“Wa’aliakumussalam Pak Ustadz, Alhamdulillah pak. Oh ya pak mari kita sholat berjama’ah”

Khusyu’ dalam melantunkan ayat-ayat Allah. Pikiranku hanya tertuju untuk menghadap, bertamu kepada Allah. Ku persembahkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Ku alunkan semua curahan hajatku,yang berselimutkan dzikir dan tangisan letihku.

Hatiku sedikit tenang. Tak lama kemudian Pak Ustadz menghadap ke arahku dan bertanya” Anto bagaimana sekolahmu, pasti nilainya bagus-bagus ya to”

“Alllhamdulillah lumayan Pak, tapi ada yang saya bingungkan pak,, saya mau Tanya sama Pak Usdazt boleh?”

“boleh-boleh”

“Cita-cita itu apa si Pak”

Pak ustadz diam sejenak, seperti sedang mengumpulkan kalimat untuk menjelaskan kepadaku, atau mungkin lagi ngingat-ngingat dalil tentang cita-cita

“Yang Pak Ustazd tau cita-cita itu kaya sebuah impian,impian itu ingin diwujudkan dengan kerja keras. Jadi gini misalkan Anto sekarang punya impian ketika anto sudah besar, Anto ingin jadi Dokter, nah mulai sekarang Anto harus belajar yang giat supaya kalau sudah besar nanti Anto bisa jadi Dokter”

Aku sejenak diam dengan mata tertutup, berfikir, alhamdulillah sekarang aku sudah sedikit memiliki pencerahan tentang apa itu cita-cita.

“Pak Ustadz terimakasih atas jawabannya,saya pulang dulu ya Pak Ustadz,adik saya sudah menunggu saya dirumah, sekalilagi Syukron Pak Ustadz”

Langkah kakiku mengiringi pikiranku tentang jawaban Pak Ustadz ,Otakku masih membayangkan kehidupan dimasa depan,mau jadi apakah aku dimasa yang akan datang, apakah aku perlu meminta bantuan pada Doraemon. Langkah kuperpelan untuk melancarkan kinerja otakku.Mataku tertuju pada lingkungan yang sesuai dengan sunnatullah.

Kakiku telah mengantarkanku ke depan pintu rumah, namun otakku belum menemukan cita-cita.

“Sudah dulu lah cita-cita, aku mau mengerjakan tugasku”

Siang telah berganti malam, dengan udara yang hangat, bulan hadir dengan ditemani bintang-bintang. Membantu menerangi kegelapan rumahku yang hanya disinari oleh 1 batang lilin. Otakku mulai lelah memikirkan cita-cita. Hati kecilku mulai bertanya, kira-kira dimanakah aku bisa menemukan cita-cita. Mataku letih, ingin rasanya terlelap. Namun ingin rasanya cita-cita itu ku cari.

Sudahlah ini sudah malam. Mungkin besok aku bertemu cita-cita.

Keesokan harinya, sekolahku kedatangan seorang professor. Beliau didatangkan untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswi dikelasku.

Beliau menceritakan semua pengalaman, dan nasibnya sejak kecil sampai ia menjadi Profesor dan Motivator. Sungguh semua itu dilakukan dengan perjuangan dan pengorbanan yang sangat keras,penuh dengan niat disertai dengan keihklasan yang tulus. Semua itu membuat aku terenyuh. Disela-sela pembicaraannya ia memberikan kesempatan bagi siswa yang ingin bertanya, namun tak ada satupun tangan yang diangkat.

Dua jam penuh beliau berbicara,mataku dan kepalaku tak bosan, justru bersemangat. Mungkin inikah jalan cita-citaku hati kecilku mengira. Otakku sekarang penuh dengan angan-angan, yang ingin ku sampaikan kepada Dunia.

Waktu pulang. Otakku masih berangan-angan. Emosiku melonjak ingin segera menunjukkannya pada Dunia.Sebenarnya aku sudah tau cita-citaku,terngiang-ngiang diotakku. Namun kenapa mulut ini tak mampu mengucapkannya.

Ku tenangkan hati dengan basuhan air wudhu. Ku bersihkan jiwaku dengan sholat,ku curahkan semuanya kepada Sang Pencipta.Sehingga otakku bisa berfikir jernih.

Inikah rencanaku, inikah keinginanku, inikah impianku, inikah tujuan hidupku, dan apakah ini Cita-ciaku. Menjadi seorang Motifator, supaya anak-anak seusiaku dimasa yang akan datang tidak ada lagi yang nasibnya sama seperti ku.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »