Etimologi Iqra'

6:17 PM

Oleh Muhamad Hanif D, S. Pd

“Cobalah untuk tidak menjadi orang yang berhasil. Tetapi jadilah orang yang berguna. (Albert Einstein)”

Kita ketahui bahwa Surat Al-‘Alaq adalah surat yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad di Gua Hira dengan perantara Malaikat Jibril yang ayatnya diawali dengan bacaan Iqra’ yang artinya bacalah. Iqra kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang tiga kali dalam rangkaian wahyu pertama. Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Qur’an (QS 29: 48), bahkan seorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan sampai akhir hayatnya. Namun keheranan ini akan sirna jika disadari arti Iqra’ dan disadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Muhammad Saw. semata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.
Namun kata Iqra itu buka saja artinya membaca saja akan tetapi artinya beraneka ragam diantaranya meliputi Tujuh M, yakni:

1. Membaca

Maksud dari membaca adalah Allah memberikan petunjuk berupa al-Qur’an untuk senantiasa dibaca setiap saat. Karena al-Qur’an berbeda dengan koran. Kalau Qur’an bagi yang membaca huruf demi hurufnya adalah ibadah dan berpahala. Sehingga dijadikan oleh Allah sebagai sumber hukum umat Islam.

2. Menterjemah

Setelah kita baca al-Qur’an mungkin bagi yang membacanya belum tahu maksudnya, karena banyak umat Islam yang belum bisa bahasa Arab. Namun saat ini sudah banyak Al-Qur’an yang sudah ada terjemahnya. Oleh karena itu untuk mempermudah memahami isinya yaitu dengan diterjemahkan sehingga kita akan mampu meresapi isi-isinya.

3. Meneliti

Semakin mendalam setelah kita baca dan sedikit demi sedikit kita terjemahkan kita teliti ayat-demi ayat. Coba kita lihat ayat dalam al-Qur’an begitu indah dan puitis, dengan akhiran yang sama. Ahli sastra manapun tidak akan mampu menandinginya. Untuk itu kita harus meneliti betul-betul dengan meneliti ini kita akan menemukan ketakjuban/keistimewaan al-Qur’an.

4. Mengkaji

Kajilah al-Qur’an setiap waktu dengan para ahli Qur’an atau orang-orang yang shalih, sehingga memudahkan kita untuk menghayatinya.

5. Menghayati

Dalam membaca al- Qur’an tentunya kita harus menghayati dengan pikiran yang bersih dan hati yang dalam, sehingga kalau ada orang yang membaca al-Qur’an hati kita akan terasa gemetar dan merasa dekat dengan Allah.

6. Memahami

Sedikit demi sedikit al-Qur’an kita baca, terjemah, teliti dan kita kaji maka kita akan memahami makna dan tujuan ayat demi ayat seperti kenapa ayat ini diturunkan, dan perintah ayat ini untuk apa diturunkan, dan sebagainya.

7. Mengamalkan

Dengan keenam tersebut di atas maka akan ada dorongan hati kita untuk mengamalkan perintah yang Allah turunkan kepada kita tanpa ada paksaan apapun. Oleh karena itu mari kita pelajari isi kandungan al-Qur’an ini sehingga kita mampu mengaplikasikan petunjuk yang Allah berikan kepada kita selaku umat muslim dan kita akan mendapat predikat orang-orang yang bertaqwa. Amin.

Magical Power of Iqra’

Suatu ketika Rasulullah Muhammad Saw memberikan tuntunan kepada umatnya untuk belajar atau menuntut ilmu walau sampai ke negeri China (Uthlbul’ilma wa law bitstsiin). Hadits ini oleh kebanyakan para ulama dikategorikan sebagai hadits dhaif atau hadits yang lemah. Bukan soal kedhaifan hadist ini yang begitu mempesona saya untuk menguraikanya. Dalam sejarahnya, ketika Rasulullah masih berdagang tentu sudah mengenal atau datang ke negeri China (law bitstsiin).

Mengapa dengan negeri China (law bitstsiin)? Bila kita berkesempatan untuk berkunjung ke negeri tirai bambu itu, pergilah ke suatu tempat yang diberi nama Xi’an, suatu kota yang pernah menjadi Ibukota Kekaisaran China selama tiga belas dinasti sejak abad ke XI Sebelum Masehi.

Dalam perspektif China (law bitstsiin) sebagai suatu negeri yang memiliki berbagai pesona tentang filsafat ketimuran, perkembangan ilmu pengetahuan, kepiawaian berdagang dan sebagainya itu kita ingin menuai berbagai hikmah tentang kewajiban belajar menuntut ilmu ke manapun dan seluas-luasnya dan dari sini saya memulai membuka keluasan ilmu pengetahuan itu. Untuk itu mari kita sadarkan diri pentingnya membaca dan mencari ilmu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »