Cerpen Sampah di Kota Kami

6:03 PM


Cerpen Oleh:  Dian Puspitasari, kelas IX F


“Mobil saya di curi orang!”

“Motor saya di pretheli dan diambil bagian pentingnya saja, sedangkan knalpot dan joknya ditinggal!”

“Anjing saya menggigit tetangga teman saya!”

“Saya diputus pacar!”

“Hape saya di sita guru!”

“Jemuran saya diambil tetangga!”

“Rumah saya di jual dengan harga murah.”

“Gaji saya terlambat dibayarkan!”

“Saya sudah tidak suci lagi!”

“Uang saya hilang secara misterius!”

“Kantor saya terbakar!”

***

Betapa banyak pengaduan pada call senter pada hari itu. Lobby pengaduan melalui telepon dengan nomor 199 itu sangat laris manis. Kota kami baru memasangnya 14 hari yang lalu, tepatnya pada ulang tahunnya yang ke -791.

Sangat terlambat memang, baru di umur yang bagi manusia sudah sangat senja itu, kota kami baru saja mulai “mendengarkan” keluhan rakyatnya. Yah, memang lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Walau begitu, warga kota kami senang karena akhirnya apa yang mereka aspirasikan ada yang “mau” mendengar.

TV Tron, satu satunya stasiun televisi di kota itu yang dibangun atas dasar pamer dan mencari untung setiap harinya menampilkan gambar sang wali kota dan wakilnya, Jajang dan Yeyen. Mereka adalah pasangan pemimpin baru kota kami. Mereka jugalah yang mengajukan saran berfoya-foya dengan membangun stasiun televisi. Tapi pada dasarnya perusahaan besar itu hanya menampilkan, entah sinetron atau film berdurasi sangat panjang yang berjudul “Peniti 76” yang gambarnya itu-itu saja dan pada beberapa detik terdapat selingan yang menampilkan Jajang dan Yeyen sedang “membantu” orang yang membutuhkan.

“Apa sih yang kota kami punya?” Maka, rakyat akan menjawab dengan girang, “Kita punya Jajang dan Yeyen yang mau andhap asor membantu rakyat kecil.” Lalu bila ditanya “Apa sih ciri khas kota kami?” Pasti serempak menjawab, “Kota kami punya TV Tron dan pusat pengaduan.”

Tapi apa sih yang sebenarnya membuat mereka begitu senang dengan apa yang dimiliki kota ini? Padahal sebenarnya mereka sangat buta terhadap apa yang terjadi. Coba, apa manfaat TV Tron sebenarnya? Untuk menayangkan iklan? Nonton bareng? Ah payah, kalau aku wali kotanya sih aku akan membuat “Lembaga Bantuan Rakyat Miskin dan Anak Terlantar atau Komnas Anak” yang tujuanya jelas, dan tentu dengan sistem pelayanan yang baik.

Lalu masalah nomer pengaduan, kenapa mereka begitu bangga denga call senter semacam itu? Itu karena mereka bodoh, mau-maunya menghabiskan pulsa hanya untuk mengadu? Memang ada hasilnya? Hahahahaha, kalau kau berharap ada petugas call center atau mereka mengirim orang atau antek-antek misalnya lebih baik pergi saja kau ke utara kota kami. Di sana adalah tempat pembuangan sampah yng bahkan luasnya seperempat dari keseluruhan kota kami!

Kalau aku jadi Jajang atau Yeyen, aku akan membeli alat pengolah sampah dan “sampah” masyarakat . Dari pada membuat call center dan meberikan harapan palsu—seperti judul lagu dangdut ya?

Kemana….kemana….kemana. Hatimu Travelling kemana?

*****************

Rupanya warga kota kami sudah gila. Hari ini 13 demonstrasi terjadi berturut-turut. Masyarakat miskin minta haknya dipenuhi. Padahal mereka mampu membeli motor, mobil, bahkan ada yang jadi juragan beras pun minta, kasian. Sebenarnya, ada berapa sih guru atau guru ngaji di kota kami? Mungkin sangat sedikit karena kebanyakan dari mereka kerja kantoran. Kantor yang entah bekerja di bidang apa. Bahkan karyawanya pun tak tau kantornya menghasilkan apa? Yang penting mereka digaji. Bisa buat makan anak istri, bisa hepi–hepi. Restoran, WC, kali.

***

Tujuh hari menggila, warga kota kami tak sadar bahwa sampah–sampah “busuk” itu mulai masuk raga ruang Jajang dan Yeyen. Pungutan dari rakyat sudah habis untuk membangun tanggul untuk membendung sampah. Uang sebanyak itu habis hanya untuk sebuah tanggul? Tak mungkin! Pasti ada apa- apa di antara mereka. Yah, tapi warga kota kami sudah tak peduli demo mogok makan sampai mati kalau hak-nya tidak dilunasi.

Lama-lama tanggul hasil kongkalingkong retak dan jebol. Sampah seperti tsunami. Masuk ke bagian selatan kota kami. Masuk ke rumah, kantor, gedung, semua rata seperti gorong–gorong dekat rumah tetanggaku yang 14 tahun tak pernah dibersihkan. Baunya kemana–mana. Tsunami sampah itu menyapu kota kami.


Wonosobo, Desember 2011

Sumber: http://majalah-prestasi.blogspot.com/



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »