perpustakaan

Kurikulum

Humas

Recent Posts

Alokasi Waktu Minggu Efektif Mapel IPA dan Langkah Pembelajaran Mapel IPA

11:26 PM Add Comment
1. Mengamati (observing)

Mengamati dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat. Perhatian pada waktu mengamati suatu objek/membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task) yang digunakan untuk mengamati

2. Menanya (questioning)

Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi
tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi.
Jenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik)
Alokasi Waktu Minggu Efektif Mapel IPA dan Langkah Pembelajaran Mapel IPA

3. Mengumpulkan informasi (experimenting)

Mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasi-kan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan
jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.

4. Menalar/Mengasosiasi (associating)

mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.

mengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep, interpretasi argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua fakta/konsep/teori, mensintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan antar berbagai jenis fakta-fakta/konsep/teori/pendapat; mengembangkan interpretasi, struktur baru,argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan hubungan fakta/konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.

5. Mengomunikasi-kan (communicating)

Menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisanmenyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalambentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain.

Bagi Bapak ibu Guru yang menghendaki Alokasi Waktu Minggu Efektif dapat anda Download melalui Link dibawah ini:

Download Disini

Pedoman Penyusunan Kelender Pendidikan dan Alokasi Waktu Minggu Efektif Terbaru 2017

11:09 PM Add Comment
PEDOMAN PENYUSUNAN
KALENDER PENDIDIKAN MADRASAH

BAB IV
WAKTU PEMBELAJARAN EFEKTIF
Pasal 7

Minggu efektif belajar bagi Madrasah pelaksana Kurikulum 2013 dalam 1 (satu)
tahun pelajaran paling sedikit 36 (tiga puluh enam) minggu dan paling banyak 40
(empat puluh) minggu.

Beban belajar kegiatan tatap muka keseluruhan sesuai waktu pembelajaran efektif:

1. Alokasi waktu setiap jam pembelajaran :

1) RA : 30 menit
2) MI : 35 menit
3) MTs : 40 menit
4) MA dan MAK : 45 menit

2. Madrasah tidak diperbolehkan mengadakan kegiatan perayaan dan sejenisnya atau
kegiatan lainnya yang berakibat mengurangi jumlah waktu pembelajaran efektif
sebagaimana dimaksud.

Pedoman Penyusunan Kelender Pendidikan dan Alokasi Waktu Minggu Efektif Terbaru 2017

Mengacu Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Madrasah tersebut, bapak ibu guru dalam menyusun Rencana pada Alokasi Waktu Minggu Efektif dapat kami sebutkan bahwa bapak ibu guru membutuhkan waktu Pembelajaran Minimum 36 Minggu dan paling banyak 40 Minggu dalam 1 Tahun.

Kesimpulannya Bapak ibu guru dalam merencanakannya dapat mengambil tengah-tengahnya saja, semisal yang akan kami berikan contoh dibawah ini:

Silahkan Bapak ibu Guru Download Disini

Dimana Guru Ku...???

7:02 PM Add Comment
MTsNWonosobo - Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Salah satunya ditangan guru nasib suatu bangsa ditentukan juga bagaimana arah pandangan generasi muda kita.Sosok guru dulu adalah penuh dengan kewibawaan,kesederhanaan ,ketlatenan,kedisiplinan dan pekerja keras.Walaupun ada sebagaian orang yang menyatakan bahwa pembelajaran zaman dulu penuh dengan kekurangan,tapi kalau kita kaji secara mendalam terutama dari sisi guru telah terjadi perubahan yang sangat dahsyat.

Bagaiman dulu paramurid begitu antusisas menunggu kedatangan guru dan selalu dinanti-natikan mereka selalu menunggu wejangan guru baik berkaitan dengan pelajaran maupun nasehat-nasehatnya,mereka juga begitu taat,patuh dan selalu mentaati apa yang guru sampaikan.Pengartian  Guru dengan digugu dan ditiru memang masih tepat, dari mereka muncul generasi muda yang hebat yang siap menjadi pemimpin dinegri in dan siap bersaing dengan negara lain.

Dimana Guru Ku...???

Sekarang guru semakin kehilangan jati dirinya mungkin disebabkan dengan perkembangan dunia informasi dan tekhnologi yang nota benenya guru belum siap menghadapinya.Guru dipandang sebagai sebuah pekerjaan mereka tidak sadar kalau yang dihadapi adalah benda hidup berupa generasi bangsa yang selalu menanti wejangan guru untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Banyak guru sekarang yang kurang paham terhadap tugasnya mereka kurang mampu dalam menggunakan internet dalam melaksanakan pembelajaran untuk kemajuan pendidikan,tapi mereka mahir dalam ber media sosial yang nota benenya tidak berpengaruh pada dunia pendidikan bahkan sangat merugikan.

Mereka asyik mengopersikan facebook,twitter,whats app,BBM,dan lain sebagainya sedangkan siswanya hanya dikasih tugas bahkan yang lebih parah siswa dibiarkan begitu saja dan kalau sedang ada masalah siswanya yang terkena amarah guru. Banyak hal negatif yang didapat kalau kita tidak bijak di dunia maya dari sisi guru akan tercipta kehidupan yang konsumtif,berpola pikir materialisme,hedonisme.

Hal itu sangat merusak nilai-nilai seorang guru.Mereka tidak sadar kalau hal itu juga merusak kepribadiannya dan mau dibawa kemana generasi kita kedepan.Pemerintah sudah memberikan penghargaan berupa kesejahteraan terhadap guru agar supaya guru benar-benra menjadi seorang profesional,tapi akan sangat rugi pemerintah kalau kesejahteraan hanya digunakan untuk hal yang negatif yang lebih kasihan nasib anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. (Achmad Zudin)